Rabu, 03 April 2013

Jebakan BATMAN?? Atau Jebakan kelas menengah?? Bag.1

Salam sukses & profit para trader. Hari ini saya akan mencoba mengambil sebuah topik unik & agak nyeleneh (baca menyimpang). Maklum karena saya bukan orang pintar apalagi dapat Cum Laude (baca Akademisi). 

Jebakan Batman apaan sih itu?? Apakah benar-benar dibuat oleh "Kang Batman"?? Kalo iya, lalu jebakan Batman buat siapa?? Mungkin itulah sekiranya pertanyaan didalam otak Anda termasuk saya. Yuk kita tanya dulu sama "Kang Batman" sang pembuat : 'Kang benar ga' sih Akang Batman lagi buat Jebakan'??
Tuh jawaban Kang Batman
Tuh kan Kang Batman aja sampai bersumpah bukan dia yang buat, lalu siapa yang buat??

Mari kita lihat terlebih dahulu mengapa sih ada jebakan. Mari lihat gambar pertama. Banyak orang mengantre, sebenarnya apa sih yang mereka antrikan?? Lalu lihat pula gambar sebelahnya yaitu tumpukan uang dengan diatasnya perangkap tikus tradisional.
Yah itulah gambaran sekiranya kelas menengah yang sedang menanjak (baca disini). Mereka "rela antri" untuk sesuatu yang sia-sia. Sebenarnya maksud lo apa sih Tom??? Coba baca berita ( baca disini)

Nah hanya karena sebuah Handphone merek tertentu mereka rela antri berjam-jam. "Ah mungkin lo iri aja karena ga' punya", "So what gitu lho?", "Emangnya itu urusan lo, urus diri lo sendiri aja dulu ga' usah urus orang lain", "Yah merekakan mampu bisa beli", "Lagi dapat bonus, lebih baik dibeliin HP gitu biar dibilang trendy" itulah mungkin pikiran sebagian dari Anda.

Lalu bagaimana dengan berita mengenai pembelian tiket konser (baca disini). Hanya karena sebuah "idola" mereka rela merogoh kocek lebih dalam. 

Jadi memang benar, saat ini kaum kelas menengah sedang meningkat. Dalam hal ini ORANG KAYA BARU (OKB) sedang banyak bermunculan alias tumbuh (baca disini). 

Namun tanpa disadari oleh kita (ataupun masyarakat OKB itu sendiri ataupun pemerintah) bahwa "kaum kelas menengah" di Indonesia dari segi pendapatan naik, akan tetapi dengan naiknya pendapatan maka naik pula konsumsi. Namun juga tidak dibarengi oleh sikap/attitude kelas menengah (artinya kebiasaan kelas bawah yaitu maunya beli barang yang paling murah & banyak)

Sehingga kita bersikap cenderung lebih konsumtif. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa kebiasaan kita "Lebih besar pasak daripada tiang" akhirnya menimbulkan neraca perdagangan kita defisit (baca disini 1, disini 2, disini 3).

"Ah, itu mah urusan negara, gue ga' ikut2an", "Emang gue pikirin", "Pusing kalo mikirin negara", "Negara sudah ada yang urus yaitu SBY", "Alah sok idealis lo", "Gue sih ga' terlalu pikirin, yang penting bisa makan enak, tidur nyenyak & kerja nikmat" itulah mungkin yang ada dipikiran Anda semua.

Coba Anda pernah ga' membayangkan bahwa karena habbit/kebiasaan kita yang "KAMPUNGAN" seperti maunya beli barang yang paling murah (spt : Sembako paling murah, sehingga tanpa disadari bahwa ternyata untuk urusan dapur seperti cabe, bawang garam semua diimpor, padahal negara kita adalah negara yang subur), beli barang bermerk namun murah, beli BBM murah yaitu PREMIUM (lalu dibuat untuk "bersenang-senang"/diboroskan).

Disamping itu bahwa kita semua istilahnya hanya sebagai "PEMAKAI" bukan "PEMBUAT". Makanya negara-negara seperti China, Korea, Amerika, Eropa melihat prospek pasar di Indonesia karena ULAH KITA SENDIRI.

Saya pribadi melihat bahwa ditengah kenaikan kelas menengah, yang menjadi indikator utama adalah peningkatan konsumsi baik itu terhadap barang ataupun jasa. Ambil contoh paling mudah,Anda lihat iklan2 travel yang menawarkan paket pergi ke Eropa dengan murah-meriah, padahal kalo Anda mendengar, membaca bahwa negara Eropa sedang mengalami keterpurukan ekonomi, & itu berarti secara tidak langsung "Anda menyumbang" negara Eropa dengan uang Anda sendiri dengan bepergian ke Eropa. Sedangkan keindahan alam negara kita sangat bagus & banyak diakui oleh turis asing.

Disamping itu Anda mungkin "gengsi" membeli baju,sepatu merek pengrajin lokal, ataupun Anda merasa malu membeli barang lokal yang tidak kalah bagus ketimbang barang impor. Atau mungkin Anda "tidak menghargai" para petani kita sehingga "MENEKAN" mereka dengan harga murah & solusi terakhir adalah IMPOR.

Itulah kenapa jebakan kelas menengah perlu diwaspadai baik oleh kita sendiri ataupun oleh pemerintah dengan merubah SIKAP & KEBIASAAN kita yang "SEPERTI KAMPUNGAN".

Sehingga kita tidak seperti "RAJA KANDANG" alias kiat hanya sebagai "pemakai" dari serbuan barang-barang impor namun tidak bisa membikin ataupun mempunyai inovasi untuk membuat barang atau jasa yang kelak membuat kita bangga karena "MADE IN INDONESIA."

Itulah sekiranya gambaran "Jebakan Batman" alias Jebakan Kelas Menengah yang dikarenakan oleh kita sendiri (baca : yang buat kita, yang kena kita, tapi yang senang negara lain).      

Tidak ada komentar: