Senin, 03 Juni 2013

IHSG Bubble??

Bubble Housing in USA 2008
Bubble Dotcom in USA 2000-2001
IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) apakah sudah menunjukkan Bubble (Gelembung yang siap meledak)? Itu adalah pertanyaan yang wajar bagi para trader ataupun investor yang paling tidak sudah berkecimpung di Pasar Modal sudah lama.
Sebelum kita bahas mari kita lihat sejarah awal terjadinya Bubble di Negara Belanda yaitu Bubble Bunga Tulip atau dikenal dengan nama Tulip Mania

Di Indonesia kita pernah mengalami "Bubble tanaman hias" seperti di Negeri Belanda yaitu Bubble Aunthurium (Gelombang Cinta) seperti yang pernah saya tulis di Blog ini (baca disini).

Contoh "Bubble" diatas merupakan salah satu contoh yang fenomenal ditengah-tengah masyarakat yang "LATAH". Lalu terus apa hubungannya dengan IHSG?? Eits sabar dulu.....Saya akan bahas secara bertahap.

Bubble tanaman hias baik itu di Negeri Belanda ataupun di Negeri tercinta kita Indonesia dasarnya adalah "keserakahan" & irrasional/tidak masuk akal manusia itu sendiri yang tidak perlu "Analisa Teknikal" ataupun "Analisa Fundamental". Semua berdasarakan rumor yang beredar. Kala itu rumor untuk Bunga Aunthurium adalah "jika belum punya bunga atau tanaman ini belum dikatakan ORANG KAYA". Sedangkan rumor untuk Bunga Tulip adalah "jika sebuah apartement tidak ada tanaman Bunga Tulip maka tidak ada nilai jual".

Dari contoh tanaman hias diatas bahwa faktor "sentiment" ataupun rumor sangat berpengaruh didalam kehidupan dalam masyarakat. Dalam Pasar Modal kita juga pernah melihat kasus seperti Bubble Dotcom tahun 2000 dimana kala itu banyak bermunculan website atau situs comercial (baca dotcom) dimana perusahaan-perusahaan internasional berlomba-lomba menjual via internet.

Sehingga provider-provider banyak bermunculan menjual link mereka. Dan dalam waktu singkat perusahaan tersebut meraup untung jutaan dollar (baca disini). Kemudian harga saham provider tersebut melonjak tidak masuk akal. Lalu terjadilah Bubble Dotcom tersebut.

Begitupula halnya dengan Bubble Housing di Amerika (baca disini) dimana saat itu harga rumah melonjak drastis diluar nalar/logika & disaat suku bunga naik maka banyak penduduk Amerika tidak mampu untuk membayar.

Apakah di Indonesia pernah terjadi? Bagi yang dulu pernah memilik Reksadana pernah mengalami sulitnya untuk Redemption/Penarikan/Pencairan Reksadana dikarenakan saat itu ada Rush (penarikan secara besar-besaran dan massal) sehingga beberapa Sekuritas mengalami kesulitan modal (baca disini1, disini2, disini3).

Bagi yang pernah memegang saham Grup Bakrie pasti mengalami pahitnya kejatuhan harga saham tersebut termasuk saya (karena beli saham ENRG diharga Rp 700/lembar & masih disimpan hingga saat ini) khususnya saham BUMI.

Dulu sebelum BUMI melonjak keharga Rp 8.550/lembar (tgl 2 Juni 2008) (baca disini1, disini2), banyak ibu-ibu muda yang suka kongkow (baca nongkrong) di Cafe membicarakan soal BUMI. Bahkan dahulu sempat ada pameo "nenek-nenek aja juga tahu BUMI".

Lalu apakah IHSG akan Bubble atau mengalami Bubble?? Mari kita lihat secara "Jernih & rasional". Secara P/E (Price Earning Ratio) IHSG berdasarkan salah satu analis senior Bpk Satrio Utomo mengatakan bahwa 16,5-17 kali (baca disini). Beliau mengatakan bahwa IHSG baru akan mengalami Bubble saat menyentuh 20-21 kali.

Namun kita ingat contoh-contoh diatas (baik itu Bubble Tanaman Hias (Tulip Mania & Aunthurium), Bubble Housing, Bubble Dotcom, Bubble Reksadana & Bubble BUMI) semua berdasarkan "Sentiment atau Rumor" & "LATAH".

Saya lihat hal yang paling sederhana adalah saat ini banyaknya Ibu-ibu rumah tangga sudah banyak "bermain saham", anak-anak kuliah sudah banyak yang memberikan analisa mereka (padahal dahulu lebih banyak analis dari sekuritas), para karyawan ataupun pegawai bahkan pensiunan sudah banyak "bermain saham", bahkan saat ini anak SMA pun bisa (ada beberapa sekuritas yang memberikan "fasilitas" deposit "murah-meriah" bagi pelajar ataupun Mahasiswa sekitar Rp 2-3 jt).

Sehingga penilaian saya saat ini IHSG sudah tidak masuk akal atau IRRASIONAL karena kenaikan yang cukup tajam serta adanya peningkatan VALUE (nilai tranksaksi yang saat ini rata-rata Rp 5 trilyun perhari). Padahal dulu sekitar 2008-2010 nilai traksaksi hanya Rp 1 trilyun, kemudian 2011-2012 sudah diatas Rp 3 trilyun dengan rata-rata Rp 3 trilyun perhari.

Saya sudah curiga sejak April yang lalu bahwa adanya Indikasi (dilihat dari rumor-rumor yang beredar baik itu mailing list, facebook,twiter, ataupun diblog) mengatakan bahwa properti prospek masih bagus. Sehingga tidak mengherankan saat ini harga saham properti sudah melonjak tajam & tidak rasional.

Sehingga para "BANDAR" sudah melakukan "distribusi" sejak pertengahan Mei 2013 terhadap saham properti, tetapi dengan "pengaruh" mereka maka para investor retail mulai membeli & terjebak diharga tinggi saat ini (tgl 3 Juni 2013). Saat April 2013, sang "BANDAR" sudah mempengaruhi para analis disekuritas, para member-member ataupun di mailing list ataupun di Blog mereka untuk membeli properti. Padahal mereka "jualan" dari barang yang mereka beli saat Desember 2012 lalu.

Demikianlah tulisan saya mengenai "ancaman terhadap IHSG" yang sudah menunjukkan Bubble. Semoga tulisan ini membuka wawasan terhadap para investor lokal ataupun investor baru bahkan yang belum masuk sekalipun.

 





Tidak ada komentar: